PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN DAYA SAING LAYANAN PERPUSTAKAAN BERBASIS TI

June 3rd, 2008

A.     Pustakawan Dalam Menghadapi Teknologi Informasi

Perkembangan  teknologi informasi ( TI ) yang sangat cepat menuntut pustakawan dan perpustakaan  untuk berjuang dan bekerja lebih keras lagi dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan, serta  keahlian dibidang  perpustakaan, dokumentasi dan informasi serta  teknologi informasi.  Untuk   mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut  harus  petugas perpustakaan  dalam hal ini pustakawan  berani dan bersedia melakukan  terobosan baru atau mengadakan perubahan sehingga  dapat mengoptimalkan pengguanaan  teknologi informasi, dalam rangka pengelolaan  bahan pustaka dan penyediaan informasi. Pustakawan yang menguasai teknologi informasi akan menuju ke profesionalisme dalam pelaksanaan tugas dalam mengelolah perpustakaan dan tugas-tugas kepustakaan lainnya.

Profesionalisme pustakawan dalam meningkatkan daya saing khususnya  dalam bidang  layanan perpustakaan,  diperlukan penguasaan teknologi informasi dalam  mengantisipasi terjadinya ledakan informasi (information expesion). Sekarang ini perpustakaan  sudah mulai menggunakan  teknologi informasi dalam  menciptakan, memproses, mengolah, menyimpan dan menyebarkan informasi. Selain itu teknologi informasi  dapat dijadikan sebagai pangkalan data untuk  bibliografi ( Bibliographic Database), sistim  temu kembali informasi (information retrieval system), Penyediaan informasi terpasang (online information service), serta adanya perpustakaan digital ( digital library). (Pendit, 2007, hlm.25). Dengan  adanya   berbagai wadah atau bentuk informasi yang muncul  baik  secara tercetak (printed), terekan (recorded), maupun terpasang atau secara online. Olehnya  itu dengan  bermunculannya wadah atau bentuk  informasi tersebut sangat dibutuhkan  tenaga pustakawan yang profesionalismenya tinggi, untuk memilah atau  memilih informasi yang dibutuhkan oleh pengguna jasa perpustakaan atau masyarakat.

Selain hal tersebut diatas,  pustakawan juga  harus membangun sebuah citra (image) terhadap masyarakat atau pengguna  jasa perpustakaan yang selama  ini menganggap bahwa perpustakaan itu hanya sebuah gedung yang didalamnya  terdapat tumpukan buku-buku tua yang kumuh dan berdebu. Karena  dengan adanya  citra perpustakaan yang baik tidak menutup kemungkinan akan terjadi pemikiran yang baik terhadap penilaian  masyarakat terhadap perpustakaan.  Sehingga  dengan sendirinya  dengan citra  yang baik  akan  meningkatkan daya  saing perpustakaan  dalam  meningkatkan pelayanan  informasi kepada  penggunanya atau  masyarakat umum.

Peningkatan daya  saing  diperpustakaan diperlukan dalam mengantisipasi terjadinya globalisasi, dimana globalisasi adalah terjadinya perobahan dari semua lini yang transparansi untuk  itu  dibutuhkan suatu pengetahuan tenaga yang profesionalisme bagi pustakawan khususnya dibidang teknologi informasi,  karena   tanpa pengetahuan yang memadai  tentang teknologi informasi, akan ketinggalan  dalam  menyebarkan informasi-informasi terbaru yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Informasi  yang dimaksud disini adalah  kandungan yang terdapat dalam berbagai bentuk dokumen  (bahan pustaka), baik yang tercetak, terekam maupun yang terpasang atau online.  Sebagaimana dijelaskan oleh  Sumardjan (1989) dalam Hermawan (2006) informasi dalam bahan pustaka dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu : (1) informasi komsumtif (komsumtive information), dan (2) informasi modal (capital information ).

Informasi komsumtif adalah  informasi  yang berguna  secara konsumtif yang dapat dinikmati langsung  oleh pengguna,  karena  sifat-sifat informasinya yang terkadang didalamnya misalnya; fiksi, cerpen, lagu, film dan sebagainya.  Sedangkan yang bersifar modal informasi yaitu  informasi yang diperlukan untuk proses produksi untuk menyiapkan sesuatu hasil. Informasi modal ini masih sifatnya bahan baku mentah yang masih memerlukan suatu pengolahan.

Salah satu daya  saing perpustakaan dan pustakawan dengan adanya AFTA (Asean Trade Area) dimana katanya  akan berlaku pada  tahun 2020 namun dipercepat menjadi tahun 2015 (Sulistio-Basuki, 2005). Persaingan  tersebut bukan saja diantara perpustakaan kita tetapi termasuk persaingan tingkat ASEAN maupun dunia. Parsaingan  disini diantaranya  persaingan dibidang layanan terhadap pengguna  jasa perpustakaan, sehingga untuk menghadapi hal tersebut dibutuhkan  tenaga-tenaga  yang profesinal yang memiliki keahlian  dibidang  perpustakaan dan teknologi informasi.

Dengan  adanya pergeseran  paradigm dalam teknologi informasi dan adanya perubahan perilaku dalam menghadapi dunia yang sudah transparan ini,  maka perlu adanya persiapan bagi insane pustakawan dalam  mempelajari dan memahami perkembangan teknologi. (Purwono,2007, hlm.59)

B.      Pase Baru Perpustakaan

Dalam  kondisi sekarang ini perpustakaan berada dalam suatu pase yaitu adanya  suatu paradigma baru khususnya dalam bidang teknologi informasi. Dimana  hamper semua kegiatan diperpustakaan sudah semuanya mengarah ke proses digitalizasi, mulai dari pengadaan bahan pustaka, pengolahan sampai pada layanan perpustakaan.  

Perubahan dalam perpustakaan tidak bisa dihindari dengan  berkembangnya  teknologi informasi, dimana  salah satu contoh  kemajuan  suatu negara atau bangsa adalah dengan adanya  penguasaan  teknologi informasi, untuk  itu  konsep peningkatan daya   saing pada  pelayanan informasi diperpustakaan secara  umum dimaksudkan sebagai upaya mengikuti perubahan (paradigm)  baru tentang strategi kompetitif agar mampu menghadapi gejolak perubahan  eksternal serta  dapat memanfaatkan  peluang-pelunag  yang ada. Perubahan eksternal yang dimaksud adalah adanya perkembangan teknologi informasi yang dating dari luar perpustakaan seperti adanya internet yang sangat mengancam perkembangan perpustakaan sebagai sumber untuk mendapatkan informasi.

Perubahan paradigma  perpustakaan  pada  dasarnya  mengacu pada  perubahan layanan jasa  perpustakaan dan informasi, dimana layanan perpustakaan tidak terkungkung pada layanan informasi seperti peminjaman buku, pengembalian, layanan referensi, layanan penelusuran serta pendaftaran  anggota  perpustakaan, tetapi  sudah harus berkembang ke pekerjaan-pekerjaan  teknis lainnya, seperti pelaksanaan adminitrasi manajemen dalam suatu organisasi perpustakaan.

Sehingga apa yang ditawarkan oleh perpustakaan akan menjadi akraktif, intraktif, educative dan rekreatif bagi penggunanya sesuai dengan fungsi perpustakaan  yang sebenarnya.(Qalyubi, 2007, hlm.15-17)

Layanan perpustakaan  pada  dasarnya  sudah mengalami paradigma   baru, yang pada  mulanya  layanan  perpustakaan  berubah menjadi layanan informasi. Perubahan  layanan dikarenakan  adanya perubahan  bentuk media  yang digunakan seperti dari media buku menjadi media elektronik dan media-media  lainnya.  Dengan  demikian  perubahan  tersebut akan berefek pada perubahan proses penciptaan, penghimpunan, penyimpanan dan penemuan  kembali sumber informasi (information retrival).

Selain karena  perubahan tersebut Brian C.Vickery dan Lina Vickary (1887) memberikan gambaran bahwa disamping perubahan teknologi media, dan pegolahnya juga terjadi perubahan  produk, pembentukan kelas-kelas baru dalam masyarakat, perkembangan pesat dalam pendidikan, termasuk penyedia layanan-layanan baru kepada  masyarakat, sehingga  dengan semua itu apabila  seorang pustakawan masih menggunakan sistim lama atau sistim tradisional kemungkinan  besar akan ditinggal oleh penggunanya.

C.      PeLayanan Perpustakaan

Dengan adanya arus kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh pengguna  jasa perpustakaan yang sangat berpariasi,  pustakawan harus  mengantisipasi dengan  memunculkan  atau mengelola informasi yang berorientasi pada komputerisasi atau teknologi informasi, agar informasi  yang dibutuhkan oleh masyarakat dapat ditemukan lebih cepat, tepat dan efisien. Sehingga  dengan adanya  hal tersebut akan  mengangkat  citra  perpustakaan yang selama ini hanya di anggap sebagai tempat tumpukan buku.

Salah satu  cara  dalam mengangkat citra  perpustakaan dan pustakawan adalah melakukan layanan prima. Pelayanan prima pada dasarnya adalah  bagaimana penyedia jasa informasi memberikan  kepuasan terhadap pengguna jasa. Juga dijelaskan oleh Atep Adya Barata, 2004, bahwa pelayanan prima adalah pelayanan yang sangat baik atau yang terbaik, membuat pelanggan merasa penting, melayani pelanggan dengan ramah, tepat dan cepat, pelayanan dengan mengutamakan kepuasan pelangga, menempatkan pelanggan sebagai mitra, kepedulian kepada pelanggan untuk memberikan rasa puas. Untuk  menjamin terlaksananya  layanan prima tersebut dibutuhkan  suatu kualitas kompetensi pemberian  pelayanan.  Kompetensi disini  seperti   contoh seorang pustakawan harus  memiliki suatu keahlian dan keterampilan dibidang perpustakaan  sehingga  pada saat memberikan  informasi terhadap pengguna  jasa perpustakaan pengguna  jasa tersebut merasa puas.

Berdasarkan hal tersebut diatas seorang pustakawan seharusnya  memberikan layanan kepada pengguna jasa perpustakaan dengan  prinsip  Layanan yang berbasis pengguna (People based service) dan  layanan unggulan (service excellence). Tujuan dengan  adanya layanan  tersebut  adalah bagaimana pengguna jasa perpustakaan itu merasa puas, termasuk  meningkatkan loyalitas pengguna  jasa perpustakaan, juga  bagaimana  kita meningkatkan penjualan atau promosi layanan kita  kepada pengguna, serta   meningkatkan jumlah pemakai jasa perpustakaan.

Dengan demikian  akan terjadi suatu pelayanan yang baik apabila penguatan posisi tawar pengguna jasa  pelayanan mendapatkan perioritas utama.  Untuk  itu pengguna jasa diletakkan di pusat yang mendapat dukungan dari :

1)      System pelayanan yang mengutamakan kepentingan masyarakat, khususnya pengguna jasa;

2)       Kultur  pelayanan dalam organisasi penyelenggara pelayanan; dan

3)      Kumber daya  manusia yang berorientasi pada  kepentingan pengguna. (Ratminto, 2006, h.52-53).

Oleh karena  itu untuk  memenuhi kriteria  tersebut di atas  para  penyedia   informasi  memilki kualitas terhadap pengguna jasa. Kualitas-kualitas  pelayanan terhadap pengguna jasa tersebut antara lain :

1.      Penampilan

Bagaimana  penampilan,  baik  penyedia informasinya, penampilan tempat atau instansi itu sendiri, serta pasilitas yang dimiliki  memiliki  daya  tarik terhadap pengguna  jasa.

2.      Tepat waktu/Janji

Dalam melakukan pelayanan prima, khususnya  tepat waktu atau janji pemberi jaya tidak boleh menyampaikan kepada pengguna jasa waktu namun pada waktu yang ditentukan  belum terbuka pelayananya.

3.      Kesediaan Melayani

Perpustakaan  sebagai salah satu fungsi utamanya adalah melayani masyarakat atau poengguna jasa perpustakaan sehingga konsekuensinya adalah harus melayani pengguna dan benar-benar melayani tanpa ada beban.

4.      Pengetahuan dan Keahlian

Disini seorang pustakawan harus memiliki suatu keahlian atau keterampilan dibidang perpustakaan  sehingga dalam memberikan pelayanan kepada pengguna jasa perpustakaan dapat mengatasi pertanyaan-pertanyaan yang dibutuhkan oleh pengguna  jasa sehingga merasa puas.

5.      Kesopanan dan Tata Krama

Pustakawan dituntut dalam memberikan pelayanan harus ramah dan sopan santun memiliki standar melayani, sabar, tidak egois dan santun dalam bertutur kata terhadap pengguna  jasa sehingga  tidak terjadi ketersinggungan.

6.      Jujur dan Dipercaya

Pelayan kepada  masyarakat harus punya sikap termasuk transparansi, kejujuran, jujur dalam aturan, biaya, waktu dan lain sebagainya. Karena  tanpa kejujuran pengguna  jasa  akan merasa kecewa dan tidak akan berkunjung lagi. Selain  hal tersebut termasuk juga sikap dan tutur kata terhadap pengguna jasa sehingga mereka  merasa dihormati dan dihargai.

7.      Kepastian hukum

Pelayanan  terhadap pengguna  jasa harus mempunyai legitimasi hukum sehingga pengguna  tersebut merasa aman dan mempunyai legitimasi.

8.      Keterbukaan

Pelayan terhadap masyarakat harus terbuka terhadap penggunanya. Misalnya  mereka mendaftar menjadi anggota perpustakaan rincian  biayanya sudah jelas sehingga tidak ada lagi saling mencurigai.

9.      Efisien

Dari  setiap urusan atau layanan kepada masyarakat dituntut adanya efisien dan efektif, sehingga akan menghasilkan  biaya yang murah, waktu yang singkat, cepat dan tepat serta  memiliki kualitas yang tinggi.


10. 
Biaya

Dalam  pelayanan terhadap pengguna  jasa  diperlukan suatu kejujuran dalam pembiayaan disesuaikan dengan daya  beli masyarakat atau pengguna jasa serta  transparansi dalam  penggunaan dana.

11.  Tidak Risau

Maksudnya pengurusan terhadap pengguna  jasa perpustakaan dilarang membeda-bedakan kesukuan, agama, aliran tertentu  atau politik tertentu.

12.  Kesederhanaan

Maksudnya  dalam pelayanan kepada penggun jasa prosedur dan tatacara pelayanan kepada masyarakat selalu mengedepankan kesederhanaan tanpa berbelit-belit yang ujung-ujungnya  menyusahkan pengguna  jasa.(Kepmenpan No. 63 tahun 2004, hlm 21-22).

Selain  hal-hal  seperti diatas kualitas layanan mutahir perpustakaan dan informasi dapat dibedakan  atas   lima   bagian   antara  lain  :

1)  Reability; 

2) Responsiveness; 

3)  Assuranc;,

4) Empaty;

5) Tangible. Berry (1990) dalm Ratminto, 2006, hlm.176)

Pelayanan  terhadap jasa pengguna  jasa perpustakaan cakupannya  akan lebih luas apabila dilakukan  secara  profesional dan selalu menyediakan informasi yang terbaru serta menggunakan komputerisasi, internet serta  dijadikan sebagai sarana pengelola informasi dan teknologi. Dengan  sarana  komputerisasi tersebut perlu juga dilakukan suatu jaringan  kerja sama dalam bentuk jaringan perpustakaan (library network) terhadap perpustakaan-perpustakaan  yang ada. Dengan   adanya  jaringan  tersebut pengguna jasa perpustakaan dapat mengakses informasi diluar dari perpustakaan kita yang ikut dalam kerjasama jaringan tersebut.

Dengan  berpariasinya  informasi serta sarana dan prasarana yang berbasis teknologi informasi yang dipakai dalam mengakses informasi tersebut, mengharuskan pustakawan untuk berkualitas, berdaya saing yang tinggi serta punya kompetensi yang tinggi sehingga  perubahan paradigma baru dalam peningkatan daya saing,  diperlukan suatu layanan prima disamping itu akan mengangkat dan memperbaiki citra perpustakaan dimata masyarakat.

D.     Promosi Perpustakaan.

Dalam rangka menginformasikan kepada pengguna  jasa perpustakaan tentang layanan  perpustakaan diharapkan petugas perpustakaan untuk mengadakan promosi atau memasarkan produk  tersebut.  Dalam mempromosikan perpustakaan bermacam-macam  cara  seperti:  melalui media  cetak misalnya liflet, brosur, stiker, panplet dan lain-lain. Juga  bias melalui media elektronik seperti TV, Radio, email, internet dan alat elektronik lainnya, serta  mengadakan pameran-pameran perpustakaan.

Pelaksanaan promosi atau pemasaran perpustakaan ada langkah-langkah yang perlu dilakukan antara lain : 1)  Membangun citra diri perpustakaan (brand image) terlebih dahulu; 2) Pustakawan  harus berani atas perubahan dalam arti melakukan terobosan baru dan menyakinkan kepada  masyarakat dari identik dengan buku berubah dengan identik dengan  informasi;  3) Layanan  yang berbasis pengguna (people based service) dan layanan unggulan ( excellence service )  serta  mengikuti perkembangan kebutuhan  perpustakaan.(Qalyubi,2007, hlm.259)

E.      Jaringan Kerjasama Perpustakan (ILL)

Jaringan kerjasama perpustakaan (Interlibrary Loan) adalah  merupakan  suatu sarana layanan perpustakaan  yang tergabung dalam suatu kerjasama antar perpustakaan dimana  antara perpustakaan yang satu dengan perpustakaan lainnya  saling berhubungan  sehingga  memudahkan bagi pengguna  jasa perpustakaan. Jaringan seperti  ini merupakan tantangan bagi petugas perpustakaan, dimana pada awalnya informasi dikontrol oleh perpustakaan sekarang dengan adanya mesin pencari (search engine) data seperti yahoo, google dan lain-lainnya, untuk itu dengan adanya  hal seperti ini perpustakaan harus melakukan jaringan  sehingga ketersediaan  informasi di dunia maya  dapat terpenuhi.

Jaringan  kerjasama antar perpustakaan (ILL)  yang dilakukan baik dalam maupun luar negeri perlu dibina dalam rangka meningkatkan daya saing.  Namun demikian dalam menjalin kerjasama tersebut kadang dipengaruhi oleh factor-faktor seperti factor internal  dan eksternal. Factor  internal adalah organisasi itu sendiri namun untuk factor eksternalnya yang perlu dilakukan adalah bagaimana merestrukturisasi organisasi, peningkatan SDM serta penataan  manajemen. Termasuk  tidak  melihat kemampuan penggunanya  sehingga aplikasi yang dibuat atau diadakan disuatu instansi kadang tidak efektif dan efisien malah kadang menjadikan sesuatu menjadi rumit.

Faktor restrukturisasi karena  sekarang ini organisasi cenderung bertingkat-tingkat (birokrasi panjang) yang sangat tergantung terhadap pimpinan sehingga tidak mempunyai krestivitas dan inovasi. Fakator  sumber daya manusia, perlu peningkatan keterampilan dan pengetahuan dibidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi. Sedangkan faktor  manajemen sangat berpengaruh terhadap perkembangan perpustakaan, karena  tanpa didukung dengan manajemen yang baik pelaksanaan organisasi tersebut tidak akan berfungsi  dengan baik.

F.       Kesimpulan

1.      Dalam rangka meningkatkan pemasaran terhadap layanan perpustakaan perlu didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai,  tenaga yang handal, mempunyai kredibilitas tinggi, terpercaya serta memiliki sikap mau melayani.

2.      Peningkatan layanan perpustakaan perlu didukung dengan suatu jaringan kerja sama, baik antar perpustakaan instansi, perguruan tinggi maupun perpustakan dalam negeri maupun luar negeri.

3.      Dalam rangka peningkatan mutu layanan perpustakaan untuk mendukung daya saing yang tinggi diperlukan suatu pelayanan yang prima serta  tenaga  yang professional.

4.      Pengelola perpustakaan dalam hal ini pustakawan harus punya inisiatif, dan inovatif dalam mendukung perubahan paradigma  baru perpustakaan.

5.      Dalam  peningkatan mutu perpustakaan harus ditunjang dengan sumber daya  manusia yang memadai, mempunyai keterampilan, keahlian dibidang perpustakaan serta  menguasai teknologi informasi.

Daftar Bacaan

Hermawan, Rachman (2006). Etika Kepustakawanan : Suatu Pendekatan Terhadap Profesi dan Kode Etik Pustakawan Indonesia. Jakarta : Sugeng Seto.

Kartajaya, Hermawan. (2002). MarkPlus on Strategy : 12 Tahun Perjalanan MarkPlus &Co Membangun Strategi Perusahaan.   Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Lasa HS. ( 2007 ). Profesi Pustakawan Tantangan dan Harapan : Pidato pengukuhan Pustakawan Utama. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Pedoman Pembinaan Tenaga Fungsional Pustakawan. (2002) Jakarta : Perpustakaan  Nasional Republik Indonesia.

Perpustakaan Dalam Dinamika Pendidikan dan Masyarak: Dilengkapi Dengan UU No.43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. (2007) Editor, FA.Wiranto. Semarang : Unika Soegijapranata.

Priyanto, ida Fajar (2007). Bahan Kuliah isu-isu Mutahir Perpustakaan dan Informasi.

Qalyubi, Syihabuddi, dkk  (2007). Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta : Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi (UIN Kalijaga Yogyakarta ).

Ratminto, dkk. ( 2006 ). Manajemen Pelayanan : Pengembangan Model Konseptual, Penerapan Citizen’s Charter dan Standar Pelayanan Minimum. Yogyakarta : Pustaka pelajar.

Sudarsono, Blasius. (2006).  Antologi Kepustakawanan Indonesia.  Jakarta : Pengurus IPI pusat.

Uswah, lilik Kurniawati (2007) Bahan Kuliah Isu-isu Mutahir Perpustakaan dan Informasi.

TAMAN BACAAN MASYARAKAT ALTERNATIF SELAIN PERPUSTAKAAN

May 6th, 2008

Taman bacaan adalah salah satu sarana untuk mendapatkan informasi selain dari perpustakaan dan sumber-sumber informasi lainnya. Misalnya  adanya penyediaan internet dan took buku. Dalam perkembangan saat ini masyarakat dituntut untuk  lebih maju sesuai dengan perkembangan zaman. Perkembangan  ilmu dan teknologi sekarang ini adalah merupakan suatu contoh adanya  perubahan  yang harus dilakukan oleh masyarakat. Dengan  adanya  perkembangan tersebut masyarakat mempunyai inisiatif untuk mendirikan suatu sarana untuk memperoleh informasi selain dari  perpustakaan, internet dan took buku. Sarana tersebut seperti taman bacaan  masyarakat (TBM).

Taman  bacaan  masyarakat sekarang ini sangat menjamur seperti halnya di Provinsi Sulawesi Selatan,  ada sekitar ratusan  sampai ribuan taman  bacaan yang telah terdaftar di badan Arsip dan Perpustakaan Daerah. Apa lagi didukung dengan adnya  Perda Kota Makassar tentang adnya  Gerakan Minat Baca.  Anjuran tersebut di wajibkan kepada semua  desa/kelurahan yang ada untuk membuat suatu sarana taman bacaan masyarakat tersebut.  Namun  demikian  dengan  adanya taman bacaan tersebut memunculkan masalah-masalah baru seperti tidak adanya gedung yang presentatif, koleksi yang  memadai, pengelola yang provisional serta dana untuk mendukung jalannya kegiatan tersebut.

Tamanan bacaan masyarakat secara sepintas sudah mulai ada peningkatan  dengan adanya  program Diknas untuk memberikan subsidi terhadap penyediaaan sarana seperti koleksi bahan  bacaan, namun disisi lain pemerintah tidak mengkaji dengan baik bagaimana  kebutuhan  masyarakat yang ada di kelurahan  tersebut.  Seperti halnya  di perpustakaan-perpustakaan Perguruan Tinggi yang biasanya di adakan pengadaan bahan pustaka berdasarkan  kebutuhan dosen dan mashasiswanya, apa salahnya kalau misalnya  taman bacaan sebagai alternative untuk mendapatkan informasi yang lebih dekat dengan masyarakat juga disesuaikan dengan minat atau kebutuhan masyarakat setempat sehingga koleksi atau sarana yang di adakan tidak mubazir.

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sebenarnya sama saja  dengan perpustakaan-perpustakaan umum, namun bedanya perpustakaan sudah dilengkapi dengan sarana seperti gedung, koleksi, sarana yang sudah memadai serta sudah dikelola dengan  tenaga  yang memang berasal dari pendidikan yang berpendidikan ilmu perpustakaan sedangkan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) kebanyakan belum memiliki sarana seperti gedung yang permanen, koleksi yang memadai dan masih dalam bentuk swakelola atau di kelola oleh pribadi-pribadi. 

Kemudian Taman  Bacaan Masyarakat (TBM) sekarang ini  masih mempunyai suatu persoalan yang perlu di lihat seperti masih kelihatan seperti kios buku, diaman kios buku tersebut di tempati untuk menjual, menyewakan  bahan-bahan bacaan seperti Koran, majalah serta  bahan bacaan lainnya. Pada hal fungsi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) adalah untuk mendekatkan  bahan bacaan  kepada masyarakat untuk meningkatkan minat baca.

Program pemerintah dengan adanya  Taman Bacaan Masyarakat (TBM) tersebut sangat bagus, namun masih banyak pengelola taman bacaan yang masih di fungsikan sebagai tempat untuk menyewakan atau menjual bahan  bacaan tersebut olehnya itu perlu  di evaluasi atau diorganisir dengan baik mana yang termasuk Taman Bacaan Masyarakat, mana yang took buku dan mana yang perpustakaan. Kemudian mengkaji dengn baik koleksi yang cocok untuk masyarakat tersebut. Dengan  adanya  subsidi pemerintah tersebut memungkinkan  untuk  menambah koleksi bahan pustaka bagi taman bacaan –taman bacaan  itu guna  meningkatkan minat baca masyarakat.

Bahan-bahan  bacaan diharapkan berpariasi seperti Koran, majalah, buku-buku cerita, fiksi dan bacaan-bacaan umum termasuk penyediaan  bahan bacaan  bagi yang memiliki ketrampilan di daerah tersebut, termasuk buku-buku yang menyangkut komoditi andalan didaerah kita. Dengan  adanya  pariasi koleksi tersebut tidak menutup kemungkinan  taman bacaan  kita akan menjadi rujukan bagi masyarakat.

Namun  demikian  dalam mendirikan  taman bacaan  banyak sekali kendala yang dihadapi guna memenuhi kebutuhan  atau  keinginan  kita  untuk membuat taman bacaan  seperti perpustakaan antara lain :

1.       Dana

Dana  merupakan unsure yang paling penting dalam mendirikan suatu Tanam Bacaan Masyarakat, tanpa dana  untuk  menjamin adanya  koleksi-koleksi terbaru dalam  pengadaan bahan pustaka tidak akan  mungkin terpenuhi, walaupun  pemerintah katanya  akan mengeluarkan  dana untuk subsidi buku terhadap TamanBacaan Masyarakat (TBM).

 

2.       Tenaga

Tenaga pengelola  Taman Bacaan masyarakat merupakan juga  unsur yang penting dalam  pembuatan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) karena  tanpa  didukung oleh tenaga-tenaga yang profesional dalam bidang itu kemungkinan  akan berhasil  dengan  baik. Contoh  bagaimana  kita  menemukan informasi kembali kalau tanpa di kelola atau di bikinkan suatu petunjuk untuk menemukan kembali seperti katalok atau indeks   buku.

 

3.       Sarana dan prasarana

Sarana  dan prasarana merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), karena tanpa sarana dan prasarana seperti gedung yang permanen, koleksi yang memadai serta sarana lain seperti rak-rak buku, meja baca dan lain-lain kalau tidak terpenuhi maka pengguna  jasa tersebut tidak akan tertarik untuk mengunjunginya.

Seandainya  Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang dibuat sekarang ini sudah di kelolah dengan baik misalnya dengan menggunakan  sarana  teknologi informasi maka akan mendapat respos yang baik dari masyarakat karena  untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan  lebih cepat,akurat dan efisien. Dengan  adanya  taman-taman  bacaan masyarakat tersebut sebagai jalan alternative di luar dari perpustakaan dan pusat-pusat informasi lainnya maka  masyarakat kita akan gemar membaca dan tidak akan miskin informasi.

JABATAN FUNGSIONAL PUSTAKAWAN

May 5th, 2008

 

Sebagaimana kita ketahui bahwa jabatan fungsional pustakawan adalah merupakan salah satu jabatan profesi. Oleh sebab itu jabatan tersebut membutuhkan suatu keahlian atau keprofesinalisme yang tinggi seperti yang diharapkan.

Namun kita ketahui bahwa profesi pustakawan memang tidak sama dengan profesi-profesi yang lain, sehingga profesi ini tidak terlalu dikenal oleh banyak masyarakat yang hanya dianggap suatu profesi yang aneh yang kurang mendapat perhatian, baik dari kalangan eksekutip maupun dari kalangan legeslatif.

Pengakuan profesi pustakawan di Indonesia memang membutuhkan waktu yang sangat panjang , namun dengan adanya usaha para senior dikalangan pustakawan yang selalu memperjuangkan nasip pustakawan tersebut kepada pemerintah akhirnya pengakuan jabatan pustakawan di akui sejak tahun 1998 .

Pengakuan tersebut secara hukum dengan berdasarkan Undang-undang No. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-undang nomor 43 tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah nomor 9 tahun 2003, serta dilengkapi dengan Keputusan MEMPAN Nomor 18 tahun 1988 yang disempurnakan dengan Keputusan MEMPAN Nomor 33 Tahun 1998 dan yang terakhir dengan adanya Keputusan MEMPAN Nomor 132 tahun 2003 tentang jabatan fungsional pustakawan dan angka kreditnya.

Selain hal tersebut di atas pemerintah juga telah menerbitkan suatu peraturan presiden nomor 47 tahun 2007 tanggal 28 Juni 2007 tentang tunjangan jabatan fungsional pustakawan dimana peraturan tersebut memberikan tunjangan berdasarkan tingkat atau pangkat jabatan funsional masing-masing pustakawan. Dengan demikian perhatian pemerintah terhadap jabatan fungsional pustakawan sangat tinggi walaupun belum setar dengan profesi atau jabatan fungsional lainnya seperti, Dokter, ahli nuklir dan lain-lain jabatan profesi lainnya.

Pustakawan pada dasarnya adalah semua orang yang ditugaskan dan diberi wewenang, tanggung jawab dan hak sepenuhnya oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan tugas kepustakawan pada unit – unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi baik instansi pemerintah maupun instansi swasta. Sedangkan pejabat fungsional pustakawan adalah seorang pegawai negeri sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak sepenuhnya dari pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kepustakawanan pada unit atau instansi baik pemerintah maupun swasta yang mempunyai tunjangan jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dengan adanya perhatian pemerintah seperti yang telah digambarkan diatas perlu kita sebagai pustakawan meningkatkan diri seperti :

  1. Keahlian

Keahlian merupakan salah satu syarat mutlak yang perlu dimiliki oleh seorang pustakawan karena tanpa keahlian (skill) dalam mengikuti perkembangan dunia kita akan ketinggalan. Kita ketahui bahwa pustakawan sebagai sumber daya manusia yang menggerakkan sumber daya lain yang memungkinkan untuk berperan secara optimal untuk itu diperlukan suatu standar keahlian dan profesionalisme pustakawan (Perpustakaan Nasional,2002, dalam Lasa HS)

Sehingga dengan demikian dengan adanya standar keahlian tersebut harus memiliki pengetahuan minimal sesuai dengan criteria yang diatur dalam Kepmenpan no. 132 /Kep/M/PAN/12/2002. Standar pendidikan yang sesuai dengan keputusan tersebut bahwa seorang fungsional pustakawan harus memiliki latar pendidikan minimal Diploma 2 perpustakaan atau yang disetarakan.

  1. Motivasi

Dalam mengembangkan perpustakaan diharpakan perlu adanya motivasi yang tinggi oleh seorang fungsional pustakawan, karena tanpa motivasi yang tinggi maka kegiatan kepustakawan tidak akan tercapai seperti yang diharapkan oleh pemerintah atau visi dan misi yang diemban oleh perpustakaan seperti yang diamantkan dalam undang-undang yaitu turut mencerdaskan masyarakat dan kehidupan bangsa.

Kurangnya motivasi para pustakawan kita sehingga profesi pustakawan sekarang ini masih dianggap sebagian orang baik dari kalangan pemerintah maupun dari kalangan eksekutif belum terlalu penting.

  1. IPTEK

Perkembangan ilmu pengengetahuan dan teknologi adalah merupakan suatu tantangan bagi seorang pustakawan, dimana pustakawan harus manpu menyesuikan diri terhadap perkembangan teknologi tersebut agar tidak ketinggalan untuk mengakses informasi-informasi yang terbaru (curen).

Dengan adanya teknologi informasi tersebut membuat pustakawan harus meninggalkan paradigm lama, karena pengguna jasa perpustakaan memerlukan informasi-informasi yang berkembang selama ini. Tanpa peningkatan sumberdaya maka pustakawan akan ditinggal oleh usernya.

 

DAFTAR BACAAN

 

Lasa Hs. Profesi Pustakawan : tantangan dan Harapan (Pidato Pengukuhan Pustakawan Utama Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada, 2007.

 

Pedoman Pembinaan Tenaga Fungsional Pustakawan. Jakarta : Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2002.

 

Peraturan Presiden No. 47 Tahun 2007 Tentang Tunjangan Jabatan Fungsional Pustakawan. Jakarta, 2007.

 

Priyanto, Ida Fajar. Internasinalisasi Perpustakaan. Makalah Kuliah S2 MI. Yogyakarta , 2007

Qalyubi, Syihabuddin. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta, Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2007

Uswah, Lilik Kusmiawati. Pendidikan Formal dan Informal Pustakawan : Makalah Kuliah Mahasiswa S2 MIP. Yogyakarta, 2007.

 

PEMBINAAN TENAGA FUNGSIONAL PUSTAKAWAN

May 5th, 2008

 

Pembinaan tenaga fungsional pustakawan yang merupakan salah satu peningkatan sumber daya yang dapat mendukung tugas dan fungsinya dalam rangka meningkatkan profesionalisme pustakawan.

Pembinaan tenaga fungsional pustakawan sebagaimana yang dijelaskan dalam Kepustusan Menpan No. 132/KEP/M/PAN/12/2002 bahwa pembinaan tenaga fungsional pustakawan bertujuan :

  1. Meningkatkan profesionalisme dan kinerja pejabat fungsional pustakawan

  2. Menetapkan system pembinaan karier yang rasional, obyektif bagi pemangku jabatan fungsional.

  3. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat melalui perpustakaan.

Untuk mendukung tujuan tersebut maka pemerintah khususnya perguruan tinggi membuka jurusan-jurusan baru termasuk jurusan ilmu perpustakaan yang merupakan salah satu jalan untuk meningkatkan pengetahuan ilmu perpustakaan.

Karier jabatan fungsional pustakawan adalah adanya jenjang jabatan yang sesuai dengan Kepmenpan nomor 132 tahun 2002 yang terdiri dari dua antara lain :

  1. Jabatan Pustakawan Ahli

  2. Jabatan Fungsional Terampil

Jabatan pustakawan ahli adalah jabatan yang disandang oleh seorang pejabat fungsional pustakawan dengan pengangkatan pertamanya dalam jabatan fungsional pustakawan dengan kulaifikasi ijazah S1 perpusdokinfo atau S1 bidang lain yang telah disetarakan. Seperti yang dijelaskan dalam buku Pedoman pembinaan tenaga fungsional pustakawan bahwa syarat-syarat pengangkatan pustakawan ahli antara lain :

  1. Berijazah serendah-rendahnya sarjana perpustakaan.

  2. Memiliki dan lulus diklat kepustakawanan tingkat ahli dan memperoleh sertifikat yang disetarakan oleh perpustakaan nasional bagi yang berijazah bidang lain.

  3. Bertugas pada unit kerja yang melaksanakan fungsi perpustakaan, dokumentasi dan informasi sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun berturut-turut.

  4. Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam DP3 sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir.

  5. Melampirkan surat Penetapan Angka Kredit (PAK) dari pejabat yang berwenang

  6. Diusulkan oleh pimpinan unit kerja bersangkutan.

Sedangkan untuk pengangkatan pertama untuk jabatan fungsional tingkat terampil harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Berijazah serendah-rendahnya Diploma II perpustakaan, Dokumentasi dan informasi atau Diploma II bidang lain..

  2. Mengikuti dan lulus diklat kepustakawanan tingkat teramipl bagi berijazah Diploma II bidang lain dan memperoleh sertifikat yang disetarakan oleh perpustakaan nasional RI.

  3. Bertugas pada unit kerja yang melaksanakan fungsi perpustakaan, dokumentasi dan informasi sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun berturut-turut.

  4. Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam DP3 sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir.

  5. Melampirkan surat Penetapan Angka Kredit (PAK) dari pejabat yang berwenang

  6. Diusulkan oleh pimpinan unit kerja bersangkutan.

 

 

Jabatan fungsional pustakawan sebagaimana dalam kepmenpan nomor 132 tahun 2002 membagi pustakawan terampil yang terdiri dari :

  1. Pustakawan pelaksana

Pustakawan pelaksana mempunyai tugas secara professional yang bersifat teknis sederhana yang menjadi tugas pokoknya. Jabatan fungsional pustakawan pelaksana dengan pangkat, IIb sampai dengan IId.

  1. Pustakawan Pelaksana Lanjutan

Pustakawan pelaksana lanjutan, yang merupakan tugas pokoknya dalam leksanakan kepustakawanan yang bersifat teknis menengah. Jabatan fungsional pustakawan pelaksana lanjutan dengan pangkat, IIIa sampai dengan IIIb.

  1. Pustakawan Penyelia

Pustakawan penyelia yang merupakan tugas pokoknya dalam melaksanakan kepustakawanan sesuai dengan kepmenpan 132 tahun 2002 yaitu melaksanakan pekerjaan kepustakawanan yang bersifat teknis kompleks. Jabatan fungsional pustakawan Penyelia dengan pangkat, IIIc sampai dengan IIId.

Sedangkat untuk jabatan fungsional pustakawan tingkat ahli yang terdiri dari :

  1. Pustakawan pertama

Pustakawan Pertama mempunyai tugas secara professional yang bersifat analisis sederhana yang menjadi tugas pokoknya. Jabatan fungsional pustakawan pertama dengan pangkat, IIIa sampai dengan IIIb.

 

 

 

  1. Pustakawan Muda

Pustakawan Muda, yang merupakan tugas pokoknya dalam leksanakan kepustakawanan yang bersifat Analisis menengah. Jabatan fungsional pustakawan pelaksana lanjutan dengan pangkat, IIIc sampai dengan IIId.

  1. Pustakawan Madya

Pustakawan Madya yang merupakan tugas pokoknya dalam melaksanakan kepustakawanan sesuai dengan kepmenpan 132 tahun 2002 yaitu melaksanakan pekerjaan kepustakawanan yang bersifat analisis kompleks. Jabatan fungsional pustakawan Penyelia dengan pangkat, IVa sampai dengan IVc.

  1. Pustakawan Utama

Pustakawan Utama yang merupakan tugas pokoknya dalam melaksanakan kepustakawanan sesuai dengan kepmenpan 132 tahun 2002 yaitu melaksanakan pekerjaan kepustakawanan yang bersifat analisis kompleksdan pengembangannya. Jabatan fungsional pustakawan Utama dengan pangkat, IVd sampai dengan IVe.

Dengan adanya kedua pembagian jabatan pustakawan tersebut diatas yang terdiri dari pustakawan terampil dan pustakawan ahli akan berpengaruh juga terhadap perolehan lahan dalam mendapatkan angka kredit. Sebagaimana yang diatur dalam kepmenpan 132 tahun 2002 bahwa untuk pustakawan terampil mempunyai 2 tugas pokok sebagai berikut :

  1. Pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi bahan pustaka/sumber informasi.

  2. Pemasyarakatan perpustakaan, dokumentasi dan informasi

Sedangkan untuk pustakawan ahli memiliki 3 tugas pokoknya antara lain :

  1. Pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi bahan pustaka/sumber informasi.

  2. Pemasyarakatan perpustakaan, dokumentasi dan informasi

  3. Pengkajian pengembangan perpustakaan, dokumentasi dan informasi.

Dari kedua tugas pokok tersebut diatas kelihatan bahwa dalam rangka peningkatan karier jabatan fungsional pustakawan terlihat bahwa untuk pustakawan terampil dengan dasar pendidikan hanya pendidikan diploma sangat terbatas termasuk pangkat hanya sampai pada jabatan penyelia, dibandingkan dengan jabatan fungsional tingkat ahli dimana pustakawan tersebut dapat lebih leluasa untuk mengkaji perpustakaan dan khususnya kepangkatan pustakawan ahli dapat mencapai pangkat puncak atau pustakawan utama seperti yang telah di lakukan di perpustakaan UGM baru-baru ini dengan mengukuhkan 4 orang pustakawan utamanya.

Oleh sebab itu peningkatan sumberdaya manusia khusunya bagi pustakawan merupakan suatu tantangan bagi pustakawan sekarang ini disamping itu perkembangan teknologi yang semakin maju yang harus menuntut kepada para pustakawan untuk berbenah diri dalam menghadapi perkembangan seperti sekarang ini disamping itu tuntutan dari para pengguna jasa perpustakaan (user).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR BACAAN

Adhisupo, Mulyadi. Tantangan Organisasi Kepustakawanan : Makalah Kuliah Mahasiswa S2 MIP. Yogyakarta, 2007

 

Lasa Hs. Profesi Pustakawan : tantangan dan Harapan (Pidato Pengukuhan Pustakawan Utama Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada, 2007.

 

Pedoman Pembinaan Tenaga Fungsional Pustakawan. Jakarta : Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2002.

 

Peraturan Presiden No. 47 Tahun 2007 Tentang Tunjangan Jabatan Fungsional Pustakawan. Jakarta, 2007.

 

PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER INFORMASI KEBUDAYAN

April 7th, 2008

 

 

  1. Pendahuluan

Sebagai sebuah bangsa yang memiliki wilayah yang luas dan berpulau-pulau dimana diantara pulau-pulau tersebut terdapat suatu suku yang memilki budaya yang bermacam-macam, olehnya itu salah satu kekayaaan bangsa Indonesia dengan adanya keaneka ragaman suku dan budaya tersebut. Dengan kondisi wilayah Indonesia yang sangat majemuk seperti di atas sehingga akhir-akhir ini sering terjadi konflik antar daerah atau antar suku, untuk itu dibutuhkan suatu komunikasi yang sangat penting. Sehingga diantara satu suku dengan suku yang lainnya akan tedapat suatu komunitas yang membentuk suatu tradisi, adat istiadat dan aturan-aturan tertentu. Bangsa Indonesia adalah sebuah masyarakat majemuk atau bhinneka tunggal ika, yaitu sebuah masyarakat negara yang terdiri atas masyarakat-masyarakat suku bangsa yang dipersatukan dan diatur oleh sistem nasional dari masyarakat negara ini. Masyarakat indonesia yang majemuk ini penekanan keanekaragaman adalah pada suku bangsa dan kebudayaan suku bangsa. 

Dengan aturan-aturan tersebut diatas yang merupakan ciri khas suatu daerah masing-masing sebagai pembeda serta sebagai symbol eksistensi mereka. Hal itulah yang biasa disebut dengan kebudayaan. Di dalam sebuah negara, yang merupakan salah satu bentuk komunikasi masyarakat, umumnya memilki suatu bentuk kebudayaan tersendiri yang menbedakaanya dengan negara lain. Faktor semacam ini yang menjadi acuan dalam mengembangkan peradaban yang ada di negara tersebut agar eksistensinya tidak hilang begitu saja.

Kemjuan teknologi dan informasi dalam peradaban global semakin menjadi tantangan perpustakaan untuk memberikan informasi kebuadayaan terhadap pengguna jasanya. Perpustakaan sebagai penyedia informasi, meskipun berada dalam ketegangan antar struktur sosial-ekonomi yang lemah, toh masih memiliki kekuatan pembangun informasi. Maka peran dan fungsi perpustakaan di era global adalah bagaimana berperan dan berebut informasi dalam sistim sosial. Dengan kata lain perpustakaan akan eksis apabila mengembangkan suatu komunikasi dalam peradaban manusia. Termasuk tugas perpustakaan sebagai pencerah terhadap peradaban manusia, selain itu perpustakaan juga dituntut sebagai emansipator dalam proses transpormasi kebudayaan.

Dengan peran-peran seperti diatas secara konseptual menjadikan perpustakaan sebagai medium dalam proses dialektika kontruksi dan rekontruksi kebudayaan. Sehingga dengan demikian perpustakaan akan menjadi historitas mediasi sebagai penyedia informasi yang melintas batas, kekinian dan masa depan. Dengan dasar ini perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang mendokumentasikan peristiwa-peristiwa masa lalu, merefleksikan kekinian dan mengajak berpikir untuk membayangkan dunia masa depan.

Dengan adanya historitas-mediasi akan membawa perpustakaan kedalam dunia informasi tanpa batas dan waktu sehingga dengan hal tersebut perpustakaan akan melintas pada dunia maya baik lokal maupun global. Perpustakaan tidak hanya menyediakan sebagian informasi, sebagai penanding budaya konsumtif, tetapi juga sebagai agen dalam proyeksi strategi kebudayaan. Dengan adanya proyeksi strategi kebudayaan tersebut menyebabkan perpustakaan tidak hanya digunakan untuk pelayanan institusi pendidikan seperti universitas, sekolah namun perpustakaan harus hadir sebagai mediasi dalam proses komunikasi sosial masyarakat. Dengan demikian fungsi sebagaimana dijelaskan di atas sebagai pencatat peristiwa, merefleksikan dan menyedikan ruang imajinasi untuk membangun kebudayaan masa depan yang lebih baik.

  1. Pengetahuan Lokal

Pengetahuan tentang kebudayaan sangat dibutuhkan sekali dimana dengan adanya kebudayaan pada dasarnya dapat mengantisipasi manusia terhadap lingkungan. Dengan munculnya suatu budaya disuatu daerah yang memberikan suatu lambang eksistensi, ciri khas, atau sebagai indikator tingkat peradaban suatu daerah.

Sebagai semacam nilai, norma atau pandangan hidup yang akan dipengangi dalam menentukan bagaimana seharusnya sebuah masyarakat bersikap dan menyikapi terhadap tradisi mereka. Keberadaan dan keberlangsungan sebuah komunitas lokal dengan tradisinya juga sangat berkaitan erat dengan sejauhmana komunitas tersebut mempunyai apa yang disebut dengan Lokal Knowledge (Geerzt,1993).

Secara turun temurun suatu kebudayaan diwariskan kegenarasi yang lebih muda. Namun karena adanya peradaban yang dialami oleh generasi yang muda tadi sehingga peradaban kebudayaan akan mengalami perubahan termasuk perubahan kebudayaan lokal, namun masih tetap memperhatikan citra kebudayaan lama. Dengan adanya perubahan tersebut akan bermunculan kebudayaan-kebudayaan yang dapat menambah khasanak budaya daerah dan kebudayaan Indonesia.

Bermunculannya kebudayaan-kebudayaan di daerah merupkan suatu bentuk nyata akan kekayaan potensi suatu daerah di Indonesia. Seperti halnya di suatu daerah munculnya suatu karya-karya seperti kerajinan, seni dan sebaginya. Sehingga dengan adanya karya-karya tersebut akan memberikan kontribusi terhadap suatu daerah untuk dijadikan sebagai suatu potensi. Potensi disini dapat berupa pendapatan daerah misalnya dijadikan sebagai daerah parawisata, yang setiap saat akan dikunjungi oleh para wisatawan. Dengan demikian sangat dibutuhkan suatu informasi terhadap kebudayaan-kebudayaan tersebut. Salah satu yang berpotensi untuk menyebarkan informasi tersebut adalah perpustakaan.

  1. Nilai Kebudayaan

Dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat atau pengguna jasa perpustakaan tentang kebudayaan seharusnya informasi tersebut memilki nilai informasi yang tinggi. Sehingga dengan adanya nilai informasi itu akan memberikan kepercayaan kepada masyarakat tentang informasi perpustakaan. Selain nilai yang tinggi informasi yang dimuat harus punya nilai jual, terpercaya, dan akurat.

Kebudayaan dapat dibagi atas 2 bagian besar menurut bentuknya, yaitu :

  1. kebudayaan Material

  2. Kebudayaan Immaterial

Kebudayaan material merupakan bentuk kebudayaan yang nyata wujudnya, seperti candi, totem dan lain-lain. Sedangkan kebudayaan immaterial merupakan bentuk kebudayaan yang wujudnya tidak nyata (abstrak) seperti konsep pemikiran, filsafat, adat istiadat, ritual, nilai etis, idiologi, demokrasi, otonomi dan lain-lain. Pada dasarnya kebudayaan immaterial ini mendasari munculnya kebudayaan material. Ini dibuktikan dengan adanya makna yang terkandung dalam setiap bentuk artefak yang dibuat. Tidak satupun artepak kebudayaan yang tidak memiliki makna, seperti misalnya makna religious yang dimilki oleh bentuk candi Borobudur.

Apabila memang demikian keadaannya, maka kebudayaan memiliki nilai yang tidak dapat diukur. Nilai kebudayaan sangat tinggi, sehingga sayang rasanya apabila kita kehilangan akar budaya kita sendiri sebagai hasil dari imbasan globalisasi. Dengan demikian tempat tumbuhnya suatu perpustakaan adalah dalam masyarakat dan kebudayaan. Kebudayaan berisi 2 (dua) dimensi yaitu :

1. Wujud kebudayaan, misalnya brupa gagasan, konsep dan pikiran manusia, atau suatu rangkaian kegiatan dan bahkan bisa berupa benda (mulai dari sendok nasi sampai peluru kendali)

2. Isi kebudayaan, ada bermacam-macam, mulai dari bahasa dalam hal ini komunikasi sampai teknologi, mulai dari sistem ekonomi sampai religi dan kesenian.

 

 

 

  1. Pengelolaan Informasi Kebudayaan

Melihat kenyataan seperti diatas, maka perlu kiranya pengeloalaan informasi kebudayaan dilakukan. Hal ini diupanyakan sebagai langkah bagi kita untuk tidak kehilangan satu matarantai pun dari rentang perkembangan kebudayaan dari jaman dahulu sampai sekarang.

  1. Digital Perpustakaan

Perkembangan perpustakaan digital di Indonesia cukup menggembirakan. Hal ini ditandai dengan bertambahnya anggota atau partner yang tergabung dalam jaringan perpustakaan digital di Indonesia. Disamping itu upaya pengembangan perpustakaan digital ini tidak hanya sebatas pengembangan untuk universitas dan institusi pendidikan lainnya saja. Namun pengembangan kepada pengelolaan informasi yang menjadi asset bangsa, seperti dikembangkannya perpustakaan digital untuk warisan dunia.

Dalam perpustakaan digital ini akan dihimpun dan dikelola informasi mengenai macam kebudayaan Indonesia yang berkaitan dengan artefaknya. Ini dimaksutkan sebagai upaya mengingatkan bangsa Indonesia akan potensi yang dimiliki daerahnya, disamping untuk dijadikan bahan penelitian dan pengembangan kebudayan itu sendiri. Informasi kebudayaan seperti ini dapat diperoleh dari beberapa sumber diantaranya darah itusendiri, dan dari institusi yang menaruh perhatian terhadap bentuk kebuadayaan tertentu. Dari sini sangat diharapkan akan bertambah jumlah perbendaharaan informasi kebudayaan. Sehingga pengembangan kedepannya tidak akan menemukan kendala yang berarti. Jika demikian pembangunan nasional yang berwawasan global dengan potensi local dapat dilaksanakan dengan baik.

Dalam rangka memperoleh, manfaat tentang informasi kebudayaan diperlukan suatu sistim antara lain :

  1. Konektivitas.

Konekstivitas disini diharapkan terjalinnya koneksivitas jaringan informasi kebudayaan seperti adanya koneksivitas kepada institusi, instansi dan termasuk kepada masyarakat, sehingga informasi perpustakaan tersebut dapat dengan mudah tersebar keseluruh pelosok wilayah Indonesia yang memiliki beribu-ribu pulau. Perpustakaan seharusnya secara aktif dalam mengumpulkan suatu informasi dengan menjalin suatu jaringan informasi.

Perpustakaan sebagai penyedia informasi tidak lagi membatasi pada pelayanan pada institusi pendidikan tetapi sudah seharusnya menyediakan informasi baik ditingkat local maupun global untuk itu perlu suatu jaringan informasi atau konektivitas. Dengan adanya konektivitas atau jaringan informasi tidak ada lagi jawaban bahwa buku-buku diperpustakaan tidak ada. Model jaringan seperti ini memungkinkan pengguna jasa perpustakaan semua bisa mengakses ke berbagai perpustakaan.

  1. Komunikasi

Muatan atau isu yang dimaksud erat dengan konektivitas jaringan. Ini dimaksudkan sebagai langkah untuk memelihara secara eksistensi perpustakaan digital tersebut sehingga tetap kompeten untuk memberikan informasi kebudayaan yang positif. Komunikasi yang dimuat harus mewakili budaya-budaya yang ada di Indonesia sehingga dengan adanya komunikasi tersebut memungkinkan akan terjalin suatu budaya antar budaya yang satu dengan budaya yang lain.

  1. Muatan

Muatan atau isi yang dimaksud disini adalah informasi yang disajikan melalui perpustakaan digital ini. Hal ini merupakan bagian yang paling penting untuk dipelihara. Sebab tanpa kualitas muatan ini, maka nilai kebudayaan dalam informasi yang disajikan tetap hilang. Muatan informasi yang terkandung didalamnya menandung unsur informasi terbaru, terpercaya, ketepatan, kebenaran serta keamanan. Tanpa hal-hal seperti berikut akan memungkinkan informasi yang diberikan oleh perpustakaan sebagai pusat informasi kebudayaan tidak akan tercapai dengan baik.

 

  1. Mendokumentasikan Informasi Kebudayaan

Untuk menghindari hilangnya suatu informasi budaya diperlukan suatu kegiatan pengdokumentasian informasi kebudayaan, baik dalam bentuk buku cetak maupun dalam bentuk elektronik seperti yang dijelaskan diatas tentang digitalisasi perpustakaan. Termasuk bagaimana cara untuk tetap mempertahankan budaya-budaya yang ada didaerah-daerah yang mempunyai tradisi, nilai-nilai, tatakrama, atau norma-norma yang berbeda-beda. Untuk itu diperlukan suatu komunikasi yang baik diantara suku-yang satu dengan suku yang lain, agar terhindar dari konflik antara suku.

Dalam mengantisifasi hal tersebut perpustakaan sangat berpotensi untuk mempasilitasi dalam mengkomunikasikan antara suku yang satu dengan suku yang lainnya dengan cara melestarikan informasi-informasi budaya masyarakat. Pelestarian budaya masyarakat tersebut dapat dilakukan dengan menyimpan karya-karya manusia dalam perpustakaan dan dapat dijadikan sebagai sumber informasi literatur.

 

  1. Pengalihmediaan Sumber Informasi Kebudayan

Pengalihmediaan sumber sumber informasi adalah mengalih mediakan sumber informasi dari media cetak ke media elektronik atau kedalam CD ROM atau DVD agar informasi yang termuat didalamnya tetap tersimpan dengan baik. Pengalihan tersebut merupakan pekerjaan pustakawan perpustakaan sehingga informasi-informasi tentang kebudayaan yang ada di negeri kita ini tetap tersimpan sebagai khasanah budaya suatu bangsa. Pengalihmediaan sumber informasi kebudayaan sangat membutuhkan suatu keahlian tertentu khususnya dalam media teknologi informasi.

 

  1. Strategi informasi kebudayaan

Pengolahan informasi di kalangan perpustakaan merupakan pekerjaan yang harus dilakukan dengan perkembangan teknologi informasi seperti saat ini. Untuk itu dibutuhkan suatu aturan - aturan serta keahlian (skill) dalam pengolahan informasi. Olehnya itu perpustakaan seharusnya ikut berparsisifasi dalam penyampaiaan informasi terhadap masyarakat tanpa menyampingkan norma-norma, adat istiadat, etika dan tatakrama yang berlaku didaerah bersangkutan, termasuk kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan.

Bagaimana upaya membuat kebijakan atau policy-policy tentang apa yang seharusnya dilakukan guna memberikan jawaban dan merespon terhadap perubahan yang terjadi, serta memaknai norma-norma yang berlangsung dalam sebuah masyarakat (Peursen, 1988).

Adanya perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini membuat pengelola informasi seperti halnya perpustakaan untuk berpikir bagaimana mengantisipasi gejolak tersebut. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu tantangan dalam hal mempertahankan kebudayaan kita. Tantangan kebudayaan antara lain : kebudayaan dunia atau kebudayaan antara bangsa sudah mulai di dominasi oleh kebudayaan barat, adanya perkembangan kebudayaan nasional khususnya pada daerah sedang berkembang, munculnya kebudayaan suku bangsa atau kebudayaan daerah. Kebudayaan daerah tersebut biasanya berkembang berdasarkan masing-masing suku, hal ini biasa disebut dengan kebudayaan daerah.

Selain hal tersebut diatas tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan kebudayaan-kebudayaan nasional adalah adanya gaya hidup manusia. Dimana gaya hidup tersebut sangat dipengaruhi oleh budaya barat seperti yang dikemukakan oleh Lis Orr (1977) bahwa dalam sebuah kebudayaan untuk dapat melihat identitas suatu kebudayaan dapat ditelaah melalui gaya hidup masyarakat, bagaimana menyelenggarakan pesta, memperingati peristiwa siklus hidup dan hal-hal lain yang dianggapa dapat mewakili budaya mereka.

Dengan demikian banyak cara untuk mempertahankan suatu kebudayaan, disinilah masyarakat memiliki strategi untuk mempertahankan budaya agar tetap bertahan dan berkembang. Termasuk bagaimana membuat suatu jaringan ( network). Di negara kita ini keberadaan komunikasi-komunikasi lokal dimana hidup dengan berbagai tradisi, tata nilai, orientasi, serta cara berpikir yang di milikinya, sangat menentukan dalam mempertahankan kebudayaan. Sehingga dengan adanya komunikasi-komunikasi tersebut akan terjalin hubungan antara satu suku-dengan suku yang lainnya. Namun demikian sangat memungkinkan akan mendapat tantangan-tantangan dalam mempertahankan kebudayaan dengan perkembangan informasi dan teknologi.

Permasalahan dan tantangan yang masih dihadapi dalam strategi pengembangan kebudayaan: (1) semakin lemahnya kemampuan bangsa dalam mengelola keragaman budaya dan semakin terbatasnya ruang publik seperti perpustakaan yang dapat diakses dan dikelola masyarakat multikultur untuk penyaluran aspirasi sehingga menimbulkan berbagai ketegangan dan kerawanan sosial yang berpotensi merusak integrasi bangsa; (2) terjadinya krisis identitas nasional yang ditandai dengan semakin memudarnya nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan, keramahtamahan sosial, kebanggaan terhadap identitas kebangsaan, dan rasa cinta tanah air; (3) rendahnya kemampuan untuk menyeleksi derasnya arus budaya global sehingga penyerapan budaya global yang negatif lebih cepat dibandingkan dengan penyerapan budaya global yang positif dan konstruktif yang bermanfaat untuk pembangunan bangsa dan karakter bangsa; (4) lemahnya ketahanan budaya yang diakibatkan oleh tidak sebandingnya kecepatan pembangunan ekonomi dan pembangunan karakter bangsa; dan (5) menurunnya kualitas pengelolaan kekayaan budaya yang diakibatkan oleh kurangnya pemahaman, apresiasi, kesadaran, komitmen, dan kemampuan pemerintah daerah, baik kemampuan fiskal maupun kemampuan manajerial.

  1. Komunikasi Budaya

Bangsa Indonesia yang berpulau-pulau yang memiliki masyarakat yang sangat manjemuk, sehingga kebudayaannya sangat majemuk pula sehingga akhir-akhir ini sangat banyak terjadi komflik fisik antar kelompok yang tidak sedikit menelan korban jiwa. Untuk itu perlu pemahaman tentang pola-pola komunikasi antar suku, atau dalam bangsa kita sendiri. Dengan adanya komunikasi yang baik antara suku bangsa tersebut maka kemungkinan terjadinya konflik dapat ditekan dan memungkinkan tidak terjadi.

  1. Pengetian Komunikasi Budaya

Secara sederhana komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan atau keterangan dari satu pihak (individu) lain dengan menggunakan sarana atau wahana tertentu (Cherry dalam Ahimsa-Putra,2003). Wahana yang dimaksud disini baik berupa suara, symbol, bunyi, gerak dan lain sebagainya. Dengan adanya kemampuan berkomunikasi tersebut apakah melalui symbol atau tanda akan tercipta, terbangun suatu kehidupan social juga kebudayaan.

  1. Komunikasi Searah dan Dua Arah

Dalam kehidupan sehari-hari proses komunikasi pada awalnya selalu satu arah, dan banyak sekali fenomena-fenomena social budaya yang menruapakan upaya dalam menyampaikan pesan searah tersebut. Seperti seorang pelukis yang hanya menyampaikan pesannya lewat lukisannya sehingga tidak terjadi dioalog. Namun penyampaiaan tersebut kemungkinan masih banyak yang tidak mengerti maksud penyampaiaan pesan tersebut. Namun apabila pesan yang disampaikan oleh pelukis tersersebut dimenerti maka terjadilah suatu komunikasi dua arah. Komunikasi dua arah yang berjalan tersebut biasanya didasarkan atas pengetahuan atau pemaknaan tanda atau symbol yang sama atau kebudayaan yang sama.

Namun dalam perjalanan kadang komunikasi tidak berjalan lancer sehingga muncul kesakahan komunikasi atau pesan yang disampaikan tidak diterima oleh atau diterima namun belum jelas sehingga komunikasi harus diulang agar tidak terjadi kesalah pahaman. Karena dengan adanya kesalahan komunikasi tersebut akan memungkinkan terjadinya konflik antar kelompok, komunitas atau suku.

  1. Komunikasi Lewat gerak

Kamunikasi yang dilakukan oleh masyarakat tertentu adalah kemunikasi gerak dimana komunikasi ini hanya merupakan suatu penekanan atau memperjelas maksud dari komunikasi symbol tersebut. Namun kelemahannya dalam berkomunikasi harus saling berhadapan antara yang satu dengan yang lain.

  1. Komunikasi Lewat Bunyi

Salah satu wahanan penyampaiaan informasi kebudayaan kepada masyarakat atau suku tertentu adalah dengan adanya bunyi. Dalam penyampaiaan bunyi ini dimungkinkan agar masyarakat dapat mendengar walaupun tidak melihta sepertu memukul kentongan atau benda-benda yang lain yang pada umumnya masyarakat sudah mengetahui informasi yang dimaksud.

  1. Komunikasi Lewat Gambar

Komunikasi lewat gambar biasanya dilakukan ditempat-tempat tertentu apakah batu atau kertas-kertas yang digores-gores yang merupakan suatu tanda atau pesan tertentu. Namun pesan gambar sangat memungkinkan untuk menapsirkan salah apalagi kalau gambarnya sudah rumit sehingga informasi yang disampaikan tidak berhasil dengan baik.

  1. Komunikasi Lewat Suara

Komunikasi lewat suara adalah komunikasi yang langsung di keluarkan ditenggorokan manusia. Komunikasi ini yang sangat efektif, dimana alat yang dipakai terdapat pada manusia itu sendiri.

Dari semua komunikasi tersebut diatas tujuannya hanya bagaimana menyampaikan suatu pesan, ilmu pengetahuan, dengan sebaik-baiknya sehingga kehidupan manusia akan lebih baik, tanpa membedakan suku yang satu dengan suku yang lainnya dan menghindari konflik-konflik hanya karena kesalahan informasi atau komunikasi.

 

  1. Kesimpulan

Setiap manusia pada hakikatnya memiliki kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Sesuatu itu perlu dihargai karena hal tersebut merupakan hasil karya cipta melalui proses berpikir, perenungan yang dilakukan secara komprehensif dengan perhitungan dan pendayagunaan lingkungannya. Dengan upaya pengelolaan informasi kebudayaan melalui perpustakaan digital untuk warisan bangsa, berarti kita telah berupaya untuk menghargai bangsa kita dan memberikan makna kepada kehidupan kita.

Perkembangan masyarakat yang sangat cepat sebagai akibat dari globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi membutuhkan penyesuaian tata nilai dan perilaku. Dalam suasana dinamis tersebut, pengembangan kebudayaan diharapkan dapat memberikan arah bagi perwujudan identitas nasional yang sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Di samping itu pengembangan kebudayaan dimaksudkan untuk menciptakan iklim kondusif dan harmonis sehingga nilai-nilai kearifan lokal mampu merespon modernisasi secara positif dan produktif sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan.

Dengan adanya digitalisasi yang dilakukan oleh perpustakaan terhadap informasi-informasi kebudayaan akan terhindar dari hilangnya informasi-informasi budaya indonesia yang beraneka ragam tersebut. Dengan demikian kebutuhan akan informasi akan datang tetap terpelihara di perpustakaan.

 

 

  1. Daftar Bacaan

Abdullah, Irwan. (2007). Kontruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Darmawan, Ruly. (19 ?). Pengelolaan Kebudayaan sebagai Suatu Potensi Daerah (Makalah ). Bandung: (s.n)

Geertz,Clifford,(1993) Local Knowledge, Futher Essys in Intrvretati ve anthropology, London,Fontana Press.

Hidayah, Zulyani. (1996). Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta : LP3ES.

Jurnal Ketahanan Nasoinal No. VIII (2003). Yogyakarata : Pasca sarjana UGM.

Mudiyono. (2007). Kumpulan Materi Kuliah Kebudayaan dan Masyarakat Informasi.

Peursen, Van C.A. (1988) Strategi kebudayaan, Yogyakarta, Kanisius.

Thohir, Mudjahirin. (2007). Memahami kebudayaan : Teori, Metodologi dan Aplikasi. Semarang, Fasindo Press.

 

MANAJEMEN PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN

April 7th, 2008

 

PERPUSTAKAAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI

DAN KOMUNIKASI

BAB I

PENDAHULUAN

 

Perpustakaan merupakan salah satu sarana pembelajaran yang dapat menjadi sebuah kekuatan untuk mencerdaskan bangsa. Perpustakaan mempunyai peranan penting sebagai jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan yang sekaligus menjadi tempat rekreasi yang menyenangkan dan menyegarkan. Perpustakaan memberi kontribusi penting bagi terbukanya informasi tentang ilmu pengetahuan. Sedangkan perpustakaan merupakan jantung bagi kehidupan aktifitas akademik, karena dengan adanya perpustakaan dapat diperoleh data atau informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan. Untuk memperbaiki kondisi tersebut, perpustakaan harus menjadi sarana aktif/interaktif dan menjadi tempat dihasilkannya berbagai hal baru.

Untuk mewujudkan kondisi perpustakaan sesuai dengan fungsi dan peranannya maka perpustakaan harus dirubah sistem operasionalnya dari perpustakaan manual/tradisional menjadi perpustakaan yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi (Perpustakaan digital). Dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi diharapkan setiap perpustakaan secara bertahap dapat mengejar ketinggalannya dari perpustakaan-perpustakaan yang lebih maju dan lebih modern serta dapat mengoptimalkan fungsi perpustakaan bagi masyarakat. Selain hal tersebut diperlukan suatu manajemen pengelolaan yang sesuai dengan standar internasional dalam mengelola perpustakaan. Karena tanpa manajemen yang baik pekerjaan tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam makalah ini akan dibahas bagaimana perkembangan manajemen perpustakaan dengan menggunakan sistem informasi perpustakaan yang merupakan bagian dari perkembangan teknologi dan komunikasi. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan dalam berbagai sektor, termasuk perpustakaan.

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang digitalisasi perpustakaan perlu kita memahami apa itu manajemen. Seperti yang dikemukakan oleh Manullang (dalam Ratminto dan Winarsih, 2006:1) mendefenisikan manajemen sebagai seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan dari pada sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Sementara Gibson,Donelly dan Ivancevich (dalam Ratminto dan Winarsih,2006 :1-2) mendefenisikan manajemen adalah suatu proses yang dilakukan satu atau lebih individu untuk mengordinasikan berbagai aktivitas lain untuk mencapai hasil-hasil yang tidak bias dicapai apabila satu individu bertindak sendiri.

Pemanfaatan TIK sebagai sarana dalam meningkatkan kualitas layanan dan operasional telah membawa perubahan yang besar di perpustakaan. Perkembangan penerapan TIK dapat diukur dengan diterapkannya sistem informasi manajemen perpustakaan dan perpustakaan digital. Sistem informasi manajemen perpustakaan atau otomasi perpustakaan merupakan pengintegrasian bidang administrasi pengadaan, Inventarisasi, katalogisasi, pengelolaan, sirkulasi, statistik dan manajemen perpustakaan lainnya. Saat ini untuk mengikuti perkembangan manajemen perpustakaan dan memenuhi tuntutan kemajuan teknologi perpustakaan sudah mulai menggunakan otomasi perpustakaan untuk pengelolanya.

Pemerintahpun sudah mulai memperhatikan perkembangan dunia perpustakaan khususnya Perpustakaan, seperti halnya sekarang dengan dibuatnya suatu Undang-Undang Nasional Perpustakaan yang pada dasarnya akan memberikan harapan terhadap perpustakaan. Salah satu pekerjaan perpustakaan adalah bagaimana melayani pengguna jasa perpustakaan untuk memberikan pelayanan dengan cepat, tepat dan efisien sehingga digital perpustakaan sangat dibutuhkan. Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang digital perpustakaan terlebih dahulu kita memahami apa digital perpustakaan itu. digital perpustakaan menurut Zainal A. Hasibuan (2005) adalah merupakan konsep penggunaan internet dan teknologi informasi dalam manajemen perpustakaan. Perpustakaan digital menurut Ismail Fahmi (2004) adalah suatu sistem yang terdiri dari perangkat hardware dan software, koleksi elektronik, staf pengelola, pengguna, organisasi, mekanisme kerja serta layanan memanfaatkan teknologi informasi.

Sedangkan menurut Gledney dalam Qalyuby (2007) memberikan pengertian bahwa perpustakaan digital adalah perpustakaan yang harus memenuhi atau menyediakan semua jasa esensial dari jasa perpustakaan tradisional dan juga harus mengekploitasi kelebihan dan manfaat penyimpanan, penelusuran dan komunikasi digital. Lain halnya dengan Brain Lang (dalam Qalyuby, 2007) memberikan argumentasi bahwa digital perpustakaan (digital library ) adalah suatu istilah yang dipakai untuk menggambarkan pengguna teknologi digital untuk memperoleh, menyimpan, melestarikan, dan menyediakan akses terhadap informasi dan materi-materi yang diterbitkan dalam bentuk digital atau digitalisasikan dari bentuk tercetak, audio visual dan bentuk-bentuk lainnya. Fungsi sistem otomasi perpustakaan menitikberatkan pada bagaimana mengontrol sistem administrasi layanan secara otomatis. Sehingga memudahkan tenaga pengelola perpustakaan. Pengguna perpustakaan dapat mencari sumbersumber informasi yang diinginkan dengan menggunakan catalog online yang diakses melalui internet. Sehingga pencairan informasi dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun. Menurut Ikhwan Arif (2004) dalam makalahnya “Konsep dan Perancangan dalam Otomasi Perpustakaan� tahapan membangun sistem otomasi perpustakaan terbagi dalam 7 tahapan yaitu : (1) Persiapan, (2) Survei, (3) Desain, (4) Pembangunan, (5) Uji coba, (6) Training dan (7) Operasional. Pengembangan perpustakaan dan konvensional ke digitalisasi koleksi perpustakaan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Karena mengubah dokumen cetak menjadi bentuk digital diperlukan beberapa tahap yaitu : Proses scenning merubah bentuk cetak ke bentuk digital, proses editing mengedit data yang telah diubah ke digital untuk siap disajikan kepada pengguna. Untuk manajemen koleksi digital diperlukan komputer software dan jaringan interknit maupun internet. Dengan dikembangkannya perpustakaan yang berbasis TIK baik dalam sistem informasi manajemen maupun digital library dapat memberikan kenyamanan bagi pengguna/anggota perpustakaan dan memberikan kemudahan bagi tenaga perpustakaan dan pengelola perpustakaan.

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

Untuk memenuhi kebutuhan informasi kepada masyarakat pengguna jasa perpustakaan diperlukan suatu pengembangan koleksi perpustakaan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pengguna perpustakaan terpenuhi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Magrill dan Corbin (dalam Qalyubi, 2007) bahwa pengembangan koleksi bahan pustaka merupakan serangkaian proses kegiatan yang bertujuan memepertemukan pemakai dengan rekaman informasi dalam lingkungan perpustakaan atau unit perpustakaan. Dalam proses pengembangan dan pengolahan bahan pustaka di perpustakaan yang perlu diperhatikan antara lain :

 

  1. Pengolahan Bahan Pustaka

  1. Kebijakan pengembangan Koleksi

Kebijakan pengembangan koleksi yaitu proses memastikan bahwa kebutuhan informasi dari para pengguna jasa perpustakaan akan terpenuhi secara tepat waktu dan tepat guna dengan memanfaatkan sumber-sumber informasi yang dihimpun oleh perpustakaan.

  1. Seleksi Bahan Pustaka

Seleksi dapat diartikan secara umum sebagai tindakan, cara atau proses memilik. Dalam hubungannya dengan pengembangan koleksi bahan pustaka dimaksudkan bahwa kegiatan mengidentifikasi rekaman informasi yang akan ditambahkan pada koleksi yang sudah ada diperpustakaan.

Dalam seleksi bahan pustaka yang perlu diperhatikan seperti; 1) tujuan, cakupan dan kelempok pembaca; 2) Tingkat koleksi; 3) otoritas dan kredibilitas pengarang; 4) harga; 5) Kemutahiran; 6) penyajian fisik buku; 7) Struktur dan metode penyajian; 8) indek dan abstrak.

  1. Sumber-sumber seleksi (alat bantu seleksi)

Sumber-sumber seleksi bahan pustaka atau alat bantu dalam menyelsi bahan pustaka yang akan diadakan oleh perpustakaan antara lain : Katalog penerbit, bibliografi, tokoh buku serta judul-judul buku yang diambil di internet dan sebagainya.

 

 

  1. Pengadaan bahan pustaka

Pengadaan bahan pustaka adalah merupakan proses pembelian bahan pustaka yang dibutuhkan oleh perpustakaan yang biasanya berdasarkan kebutuhan para pengguna jasa perpustakaan.

  1. Invetarisasi

Inventarisasi adalah merupakan pencatatan bahan pustaka baik yang didapat dari pembelian, hadiah, wakaf, tukar menukar kedalam buku induk.

Tujuan infentarisasi adalah : 1) mempermudah pustakawan dalam pengadaan bahan pustaka berikutnya, 2) memudahkan pustakawan untuk mengawasi terhadap koleksi yang dimiliki, 3) memudahkan pustakawan dalam pelaporan tahunan tentang jumlah koleksi yang dimiliki.

  1. Pemberian Stempel perpustakaan.

Pemberian stempel perpustakaan bertujuan untuk memberikan identitas tentang koleksi bahan pustaka yang dimilki oleh perpustakaan. Dalam pemberian stempel ini terdiri dari stempel hak milik dan stempel inventarisasi yang letaknya sesuai dengan standar perpustakaan.

  1. Katalogisasi

Proses katalogisasi merupakan pembuatan identitas atau data bibliografi bahan pustaka dengan tujuan mempermudah pengguna jasa perpustakaan untuk temu kembali informasi bahan pustaka. Data bibliografi tersebut biasanya terdiri dari, pengarang, pengarang tambahan, judul, anak judul, judul seragam, penerbit, tempat terbit, edisi, tahun terbit,bibliografi, jumlah halam dll. Catalog ini pada umumnya terbagi atas catalog judul, pengarang dan subyek.

Tujuan katalogisasi menurut Carles Ammi Cutter (dalam Qalyubi, 2007) bahwa tujuan catalog perpustakaan adalah :

  1. Memberikan kemungkinan seseorang menemukan sebuah buku yanh diketahui berdasarkan pengarang, judul buku dan subyeknya.

  2. Menunjukan buku yang dimilki perpustakaan dari pegarang tertentu, berdasarkan subyek tertentu, dan dalam literatur tertentu.

  3. Membantu dalam pemilihan buku berdasarkan edisinya atau berdasarkan karakternya.

 

 

  1. Pemasangan kelengkapan bahan pustaka

Pemasangan kelengkapan , bahan pustaka adalah pekerjaan pemasangan beberapa identitas buku seperti : label buku, lembaran tanggal kembali, kartu buku, kantong buku,

  1. Klasifikasi

Kalsifikasi merupakan pengelompokan disiplin ilmu berdasarkan sistim tertentu. Dalam mengelompokkan ilmu pengetahuan menurut Qalyuby, 2007, h.165 bahwa pengelompokan koleksi perpustakaan terdiri dari:

  1. Pengelompokan /klasifikasi artificial yang artinya sistim pengelompokan koleksi berdasarkan ukuran, warna, ataupun data fisik lainnya.

  2. Pengelompokan/kalsifikasi fundamental artinya pengelompokan berdasarkan subyek tertentu.

Dengan adanya perkembangan klasifikasi pada dasarnya yang paling banyak digunakan diperpustakaan-perpustakaan di Indonesia sekarang ini adalah adanya pembagian disiplin ilmu berdasarkan subyek tertentu, didukung dengan adanya petunjuk klasifikasi yang dibuat oleh Deway yaitu Deway Desimal Classifikation (DDC) dimana Deway membagi disiplin ilmu pengetahuan menjadi 10 disimpil ilmu antara lain :

000 Karya Umum

100 Filsafat

200 Agama

300 Ilmu Sosial

400 Bahasa

500 Ilmu Murni

600 Ilmu Tarapan

700 Seni, olahraga

800 Kesusastraan

900 Sejarah dan geografi.

  1. Penginputan kedalam Data Base

Penginputan adalah salah satu proses pemasukan data bibliografi bahan pustaka kedalam computer. Tujuannya adalah untuk membuat suatu pangkalan data bahan pustaka di perpustakaan dalam suatu server sehingga lebih mudah untuk dikoneksikan terhadap suatu jaringan apakah dalam bentuk LAN, WAN, atau ke Internet.

  1. Scenning

Scenning dilakukan dalam rangka mengalihmediakan bahan pustaka kedalam bentuk elektronik baik ke dalam data base maupun kedalam bentuk CD atau bentuk elektronik yang lainnya. Tujuan pengalihan adalah untuk memudahkan pengguna jasa perpustakaan dalam menelusuri bahan pustaka, termasuk untuk mengawetkan bahan pustaka.

 

  1. Layanan Perpustakaan

Layanan pada dasarnya adalah orang yang memberikan atau mengurus apa yang diperlukan oleh orang lain baik berupa barang atau jasa kepada pengguna jasa perpustakaan yang membutuhkan suatu informasi. Layanan perpustakaan digital adalah pelayanan yang berorientasi pada pelayanan yang menggunakan computer, sehingga semua aktivitas yang berada didalam instansi atau organisasi tersebut diarahkan dengan menggunakan teknologi computer. Seperti yang dikemukakan oleh Gronroos (dalam Ratminto dan Winarsih, 2006:2) mendefenisikan pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak kasat mata(tidak dapat diraba) yang terjadi akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan konsumen/pelanggan.

Dalam menyelenggarakan manajemen pelayanan dengan baik harus kita memperhatikan prinsip-prinsip manajemen pelayanan seperti :

  1. Identifikasi kebutuhan konsumen yang sesungguhnya.

  2. Sediakan pelayanan terpada (one stop shop)

  3. Membuat system yang mendukung konsumen

  4. Mengusahakan agar semua staf atau karyawan bertanggung jawab atas kualitas pelayanan

  5. Melayani keluhan konsumen dengan baik

  6. Terus berinovasi

  7. Karyawan sama pentingnya dengan konsumen

  8. Bersikap tegas tapir amah terhadap konsumen

  9. Jalin komunikasi dan interaktif khusu kepada pelanggan

  10. Selalu mengontrol kualitas.

Pelayanan diperpustakaan yang sudah mulai berorientasi pada komputerisasi walaupun masih memilki kendalah dan hambatan-hambatan tetapi itulah yang menjadi tantangan bagi pengelolah perpustakaan. Untuk itu diharapakan layanan perpustakaan harus memberikan pelayanan prima, yaitu suatu sikap atau cara pustakawan dalam melayani pengguna jasa perpustakaan dengan prinsip people based service ( layanan yang berbasis pengguna ) dan Service excellence (Layanan unggulan). Antara kedua prinsip tersebut diatas pada dasarnya mengandung lima unsur pokok antara lain : 1) kecepatan; 2) ketepatan; 3)kebenaran; 4)keramahan; dan 5) kenyamanan/keamanan. Namun demikian terlaksananya layanan seperti yang diaharapkan diatas tercapai apabila semua unsur mendukungnya mulai dari puncak pimpinan sampai pada staf perpustakaan serta didukung dengan manajemen yang mantap. Selain hal tersebut diatas perlu juga melihat kualitas jasa layanan seperti :reliabilytas, responsiveness, assurance, empaty dan tangibles.

Pelayanan yang dilakukan terdiri dari, pelayanan sirkulsi, referensi, koleksi langkah, layanan koleksi deposit, layanan pemeliharan bahan pustaka dan layanan otomasi perpustakaan. Dari masing-masing layanan tersebut dapat kita uraikan sebagai berikut :

 

  1. Layanan sirkulasi

Layanan sirkulasi adalah layanan dimana pengguna jasa perpustakaan akan menerima pelayanan dari pengelolah perpustakaan. Pelayanan sirkulasi memiliki kegiatan-kegiatan antara lai : Mengadakan pendaftaran anggota baru, Peminjaman,Pengembalian, Pemugutan denda,penaglian, Pemugutan denda,penagihan, pembuatan statistic serta hubungan dengan masyarakat.

  1. Layanan referensi

Layanan referensi adalah merupakan salah satu layanan perpustakaan dimana berhubungan langsung dengan pengguna jasa perpustakaan. Dalam layanan referensi ini kebanyakan petugas menerima pertanyaan-pertanyaan dari pengguna jasa perpustakaan. Koleksi-koleksi referensi seperti : Ensiklopedia,Kamus,Buku Tahunan/almanak, Bukua petunjuk, buku pegangan/buku pedoman, bibliografi, indeks, abstarak, peta, penerbitan pemerintah, sumber biografi dan sumber-sumber ilmu buni lainnya.

 

  1. Layanan Koleksi Langkah

Layanan koleksi langka adalah layanan terhadap pengguna jasa perpustakaan terhadap koleksi-koleksi yang ada diperpustakaan termasuk buku-buku tua, yang kadang berbahasa asing.

  1. Layanan Koleksi Deposit

Layanan Koleksi deposit adalah layanan terhadap pengguna jasa perpustakaan terhadap koleksi-koleksi khusus terbitan daerah Sulawesi selatan.

  1. Layanan Pelsetarian Bahan Pustaka

Layanan pelestaraian bahan pustaka diperuntukan bagi pengguan jasa perpustakaan yang membutuhkan informasi mengenai bagaimana cara merawat dan memperbaiki bahan pustaka yang rusak termasuk didalamnya bagaimana menjilid surat kabar dan majalah.

 

  1. Layanan Otomasi perpustakaan

Layanan otomasi perpustakaan dimana layanan ini memberikan pelayanan kepada pengguna jasa perpustakaan bagaimana menggunakan computer dalam menelusuri koleksi bahan pustaka, pengalih median bahan pustaka serta pelayanan internet.

 

  1. Hambatan

Dalam pengelolaan perpustakaan sampai kepada pelayanan terhadap pengguna jasa perpustakaan masih mengalami hambatan-hambatan yang perlu penyelesaian seperti :

  1. Dana

Dana sampai sekarang dana untuk pengembangan perpustakaan masih sangat minim sehingga kebutuhan untuk meningkatkan layanan kepada pengguna jasa perpustakaan masih tidak seimbang.

  1. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia di lingkungan perpustakaan masih kurang hususnya mengenai teknilogi informasi sehingga dengan mengikuti perkembangan selalu ketinggalan selain itu sumber daya manusia diperpustakaan belum berorientasi pada pelayanan public masih bersifat structural.

 

  1. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana untuk mendukung teknologi informasi masih minim sehingga pelaksanaan tugas kadang tidak optimal karena sarananya minim.

  1. Pejabat atau Pimpinan Perpustakaan

Pejabat atau pimpinan perpustakaan kadang juga jadi kendala karena yang diangkat menjadi pimpinan di perpustakaan tidak mengerti perpustakaan.

  1. Pengguna Perpustakaan

Pengguna perpustakaan masih belum memiliki rasa memiliki sehingga di perpustakaan kadang terjadi pengrusakan koleksi bahan pustaka atau sarana informasi yang lainnya.

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. Kesimpulan

Sudah tidak relevan lagi apabila perpustakaan diklaim sebagai gudang buku yang berdebu. Perpustakaan mempunyai peranan penting, apabila dikelola dengan baik akan memberikan dampak positif bagi kecerdasan dan kehidupan bangsa. Diwujudkannya perpustakaan modern (digital) dan penerapan otomasi perpustakaan dapat memberikan kesempatan kepada pengguna mengembangkan pengetahuannya secara mandiri. Perbaikan manajemen merupakan strategi memperbaiki citra perpustakaan, sehingga perpustakaan menjadi sebuah pusat informasi yang modern dan profesional.

Adanya pelayanan perpustakaan yang berorientasi pada pelayanan prima, dimana pelayanan tersebut harus berorientasi pada kepentingan pengguna jasa perpustakaan baik yang bersifat intern maupun yang bersifat ekstern. Disamping itu perlu memperhatikan kualitas layanan yang terdiri dari : reliabilytas, responsiveness, assurance, empaty dan tangibles.

 

 

 

 

  1. Saran

Dengan menerapkan dan memanfaatkan TIK dalam otomasi perpustakaan, kita berharap dapat mewujudkan bentuk perpustakaan yang modern sehingga bermanfaat serta dapat ikut mencerdaskan anak bangsa karena perpustakaan digunakan sebagai sarana memperoleh informasi untuk dasar mengembangkan ilmu pengetahuan.selain itudiharapkan kepada pemerintah agar lebih memperhatikan perpustakaan karena dapat dijadikan sebagai pembelajaran alternative diluar sekolah.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Ikhwan,. 2004. Konsep dan Perancang dalam Otomasi Perpustakaan

Fahmi, Ismail. 2004. Inovasi Jaringan Perpustakaan Digital. Makalah Seminar Perpustakaan dan Informasi Universitas Muhammadiyah Malang 4 Oktober 2004.

 

Hasibuan, Zainal A. 2005. Pengembangan Perpustakaan Digital. Makalah Pelatihan Pengelola Perpustakaan, Bogor, 17-18 Mei 2005.

 

Herman S, Rachman., 2006. Etiak kepustakawanan : Suatu pendekatan Terhadap Profesi dan Etika Pustakawan Indonesia, Jakarta : Sagung Seto

 

Kartajaya, Hermawan., 2005. MarkPlus on Strategy : 12 Tahun Perjalanan MarkPlus & Co Membagun Strategi Perusahaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

 

Qalyubi, Syihabuddin, dkk. 2007. Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Yogyakarta : Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab UIN Yogyakarta.

 

Ratminto dkk. 2006. Manajemen Pelayanan : Pengembangan Model Konseptual, Penerapan Citizen’s Carter dan Standar Pelayanan Minimal, Yogyakarat : Pustaka Pelajar.

 

Sudarsono, Blasius. 2006. Antologi Kepustakawanan Indonesia, Jakarta : Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia kerjasama dengan Sugeng Seto.

Study Banding

April 2nd, 2008

hai teman-teman gimana kabar dari Malaysia dan Singapura, oleh-olehnya ya, bagi-bagi dong.

Hello world!

March 11th, 2008

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!